Ki Hajar
Dewantara itu butuh orang yang mau bergerak untuk mengubah pendidikan,
memerdekakan siswa melalui pendidikan, dan orang yang mau menggugat pendidikan
yang salah, bukan orang yang hanya berkumpul, mendiskusikan pendidikan, lalu pulang
dan tidak melakukan apa-apa. Tidak usah kuatir, sudah banyak buku-buku yang
membahas ambul radul dunia pendidikan bangsa ini. Begitu banyak teori yang
tercipta dari hasil pemikiran ahli-ahli. Sebagai perangkat paling penting di
dunia pendidikan, susah kah bagi guru untuk membacanya? Jawabannya tidak. Tidak
susah bagi guru untuk membaca semua teori-teori tersebut. Tetapi guru susah
untuk merubah konsep pemikiran mereka tentang bagaimana cara mendidik siswa dengan
model-model, metode bahkan pendekatan dan strategi yang menarik, kreatif dan
menyenangkan. Guru sudah terlalu nyaman dengan metode mereka, sehingga mereka
harus grasak grusuk dengan kurikulum yang baru, yaitu kurikulum 2013. Dimana
kurikulum ini menuntut guru agar dapat mengarahkan siswa agar mencapai
tingkatan taksonomi bloom yang paling tinggi yaitu aplikasi.
"Ing
ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani " masih
ingat dengan slogan ini? Slogan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Kita
lebih sering menggemakan “tut wuri handayani” mungkin ini juga salah satu
penyebab morat-maritnya sistem pendidikan yang seharusnya paling kita banggakan
di negara kita. “Ing ngarsa sung tuladha (Mampu memberi teladan), ing madya
mangun karsa (mampu memberi motivasi), tut wuri handayani (mampu memberi
dorongan)” pasti ada alasan kenapa KHD menggabungkan ketiga pernyataan ini. Dan
sekarang entah kenapa hanya pernyataan “tut wuri handayani” yang sering digemakan
dan jika kita melihat dari artinya hanya “mampu memberi dorongan” saja. Lalu bagaimana
dengan teladan dan motivasi? Nah bisa jadi praktisi pendidikan lupa bahwa ada
Teladan dan Motivasi. Dan jika digabungkan dan di aplikasikan maka tercapailah
tujuan pendidikan. Kita ambil contoh guru di sekolah, guru memberi teladan,
sudah jelas mengapa “guru” disebut guru karena untuk digugu dan ditiru, dan menurut
filosofi bahasa jawa, digugu mengandung arti orang yang bersifat jujur, nah
jika berbicara tentang kejujuran, sudah pasti kebenaran yang harus di junjung
tinggi, sedangkan ditiru berarti orang yang pantas untuk diteladani. Lalu ada
motivasi, seorang guru harus dapat menanamkan motivasi tinggi terhadap
murid-muridnya sehingga mereka memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa
yang diinginkannya. Lagi pula sekarang sudah banyak model-model, metode
pengajaran yang berpusat kepada student
center , sehingga menuntut siswa aktif di kelas. Jika masing-masing praktisi
pendidikan sadar dan menerapkan slogan ini, maka UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional akan tercapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar