Senin, 21 Oktober 2013

Karya sebagai lanjutan dari Karsa


Ki Hajar Dewantara itu butuh orang yang mau bergerak untuk mengubah pendidikan, memerdekakan siswa melalui pendidikan, dan orang yang mau menggugat pendidikan yang salah, bukan orang yang hanya berkumpul, mendiskusikan pendidikan, lalu pulang dan tidak melakukan apa-apa. Tidak usah kuatir, sudah banyak buku-buku yang membahas ambul radul dunia pendidikan bangsa ini. Begitu banyak teori yang tercipta dari hasil pemikiran ahli-ahli. Sebagai perangkat paling penting di dunia pendidikan, susah kah bagi guru untuk membacanya? Jawabannya tidak. Tidak susah bagi guru untuk membaca semua teori-teori tersebut. Tetapi guru susah untuk merubah konsep pemikiran mereka tentang bagaimana cara mendidik siswa dengan model-model, metode bahkan pendekatan dan strategi yang menarik, kreatif dan menyenangkan. Guru sudah terlalu nyaman dengan metode mereka, sehingga mereka harus grasak grusuk dengan kurikulum yang baru, yaitu kurikulum 2013. Dimana kurikulum ini menuntut guru agar dapat mengarahkan siswa agar mencapai tingkatan taksonomi bloom yang paling tinggi yaitu aplikasi.
"Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani " masih ingat dengan slogan ini? Slogan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Kita lebih sering menggemakan “tut wuri handayani” mungkin ini juga salah satu penyebab morat-maritnya sistem pendidikan yang seharusnya paling kita banggakan di negara kita. “Ing ngarsa sung tuladha (Mampu memberi teladan), ing madya mangun karsa (mampu memberi motivasi), tut wuri handayani (mampu memberi dorongan)” pasti ada alasan kenapa KHD menggabungkan ketiga pernyataan ini. Dan sekarang entah kenapa hanya pernyataan “tut wuri handayani” yang sering digemakan dan jika kita melihat dari artinya hanya “mampu memberi dorongan” saja. Lalu bagaimana dengan teladan dan motivasi? Nah bisa jadi praktisi pendidikan lupa bahwa ada Teladan dan Motivasi. Dan jika digabungkan dan di aplikasikan maka tercapailah tujuan pendidikan. Kita ambil contoh guru di sekolah, guru memberi teladan, sudah jelas mengapa “guru” disebut guru karena untuk digugu dan ditiru, dan menurut filosofi bahasa jawa, digugu mengandung arti orang yang bersifat jujur, nah jika berbicara tentang kejujuran, sudah pasti kebenaran yang harus di junjung tinggi, sedangkan ditiru berarti orang yang pantas untuk diteladani. Lalu ada motivasi, seorang guru harus dapat menanamkan motivasi tinggi terhadap murid-muridnya sehingga mereka memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya. Lagi pula sekarang sudah banyak model-model, metode pengajaran yang berpusat kepada student center , sehingga menuntut siswa aktif di kelas. Jika masing-masing praktisi pendidikan sadar dan menerapkan slogan ini, maka UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional akan tercapai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar