Minggu, 27 Oktober 2013

Pangeran


Minggu, 27 Oktober 2013

Tidak tau apa yang terjadi dengan cinta. Apa cinta itu? Apakah sejenis kata kerja atau kata benda yang hanya datang kemana ia akan berlabuh? 

Aku sendiri tidak tahu apa itu cinta, yang sering aku baca kata-kata cinta itu sering sekali menjadi satu kata pokok yang asik sekali jika dibahas. Apakah cinta itu yang membuat seorang anak SMP menggebu-gebu menyatakan “kan ku jaga cintamu dengan nyawaku” , atau kah cinta itu yang membuat aku menyukaimu? Aku belum mengenal kau pangeran, aku hanya mengenal kau dari cerita-cerita mu. Apakah aku sedang cinta kepadamu? Ataukah aku hanya menyukaimu, menyukai segala aktivitasmu, menyukai pola pikirmu yang rumit, menyukai kepedulianmu? 

Dan aku rasa aku hanya menyukaimu pangeran. Aku menyukaimu melalui cerita-ceritamu, aku menyukai aktivitasmu, aku menyukai pola pikirmu yang rumit, dan aku menyukai kepedulianmu. 

Aku tidak ingin dibilang jatuh cinta. Karena bagiku cinta itu suatu yang kompleks, yang tidak cukup di ungkapkan dengan kata-kata, tidak cukup di ungkapkan dengan syair puisi, tidak cukup di ungkapkan dengan lirik lagu, tidak cukup dilukiskan dengan gambar, bahkan tidak cukup di beri dengan suatu benda. Sudahlah biar cinta itu datang dengan sendirinya, karena aku yakin ia tahu kemana ia akan berlabuh.

Wajar jika aku menyukai lebih dari satu pangeran, karena komposisiku juga terdiri dari perasaan. Tidak bisakah aku hanya menyukaimu saja untuk sementara ini pangeran? Banyak yang harus aku lakukan, aku ingin memasukkan diriku ke “manusia-manusia baru” seperti yang dikatakan Soe Hok Gie, memberantas generasi-generasi tua yang pikirannya mengacau. 

Jangan halangi aku dengan tingkahmu pangeran, kau boleh memilih siapa saja untuk pendampingmu, tapi jangan mencoba menghilangkan perasaan menyukaiku terhadapmu. Karena aku masih akan terus menyukaimu, sampai kutemukan pangeran lain yang daripadanya cinta itu berlabuh.

Senin, 21 Oktober 2013

Karya sebagai lanjutan dari Karsa


Ki Hajar Dewantara itu butuh orang yang mau bergerak untuk mengubah pendidikan, memerdekakan siswa melalui pendidikan, dan orang yang mau menggugat pendidikan yang salah, bukan orang yang hanya berkumpul, mendiskusikan pendidikan, lalu pulang dan tidak melakukan apa-apa. Tidak usah kuatir, sudah banyak buku-buku yang membahas ambul radul dunia pendidikan bangsa ini. Begitu banyak teori yang tercipta dari hasil pemikiran ahli-ahli. Sebagai perangkat paling penting di dunia pendidikan, susah kah bagi guru untuk membacanya? Jawabannya tidak. Tidak susah bagi guru untuk membaca semua teori-teori tersebut. Tetapi guru susah untuk merubah konsep pemikiran mereka tentang bagaimana cara mendidik siswa dengan model-model, metode bahkan pendekatan dan strategi yang menarik, kreatif dan menyenangkan. Guru sudah terlalu nyaman dengan metode mereka, sehingga mereka harus grasak grusuk dengan kurikulum yang baru, yaitu kurikulum 2013. Dimana kurikulum ini menuntut guru agar dapat mengarahkan siswa agar mencapai tingkatan taksonomi bloom yang paling tinggi yaitu aplikasi.
"Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani " masih ingat dengan slogan ini? Slogan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Kita lebih sering menggemakan “tut wuri handayani” mungkin ini juga salah satu penyebab morat-maritnya sistem pendidikan yang seharusnya paling kita banggakan di negara kita. “Ing ngarsa sung tuladha (Mampu memberi teladan), ing madya mangun karsa (mampu memberi motivasi), tut wuri handayani (mampu memberi dorongan)” pasti ada alasan kenapa KHD menggabungkan ketiga pernyataan ini. Dan sekarang entah kenapa hanya pernyataan “tut wuri handayani” yang sering digemakan dan jika kita melihat dari artinya hanya “mampu memberi dorongan” saja. Lalu bagaimana dengan teladan dan motivasi? Nah bisa jadi praktisi pendidikan lupa bahwa ada Teladan dan Motivasi. Dan jika digabungkan dan di aplikasikan maka tercapailah tujuan pendidikan. Kita ambil contoh guru di sekolah, guru memberi teladan, sudah jelas mengapa “guru” disebut guru karena untuk digugu dan ditiru, dan menurut filosofi bahasa jawa, digugu mengandung arti orang yang bersifat jujur, nah jika berbicara tentang kejujuran, sudah pasti kebenaran yang harus di junjung tinggi, sedangkan ditiru berarti orang yang pantas untuk diteladani. Lalu ada motivasi, seorang guru harus dapat menanamkan motivasi tinggi terhadap murid-muridnya sehingga mereka memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya. Lagi pula sekarang sudah banyak model-model, metode pengajaran yang berpusat kepada student center , sehingga menuntut siswa aktif di kelas. Jika masing-masing praktisi pendidikan sadar dan menerapkan slogan ini, maka UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional akan tercapai.

Jumat, 04 Oktober 2013

Nilai Historisitas Manusia

Kemarin pulang kuliah hari kamis, tepatnya satu jam setelah perkuliahan selesai, saya niat banget nih ke perpus. Tujuan nya mulia banget, beneran, pengen baca buku buat nambah pembendaharaan kata-kata di otak, sekaligus pemetaan struktur fungsi otak. Nah lo? apa maksud ini? iya. Jadi ingin menyelaraskan fungsi otak sebagai kecerdasan intelektual dan fungsi otak sebagai kecerdasan emosional.
Anyway, setelah sampai di perpustakaan, seperti biasa saya berdiri di depan stand kunci loker, menunggu kunci loker jatuh ke tangan saya-2 menit berlalu- tapi saya di cuekin sama pegawainya, di situ masih mikir mungkin belum ada loker yang kosong, setelah mungkin pegawai bosan melihat saya -yang terus berdiri di depan stand nya, si pegawai pun menyuruh saya membaca selebaran pengumuman yang ada di depannya. Dan ternyata pengumuman itu sedikit membuat saya syok. Terhitung tanggal 1 oktober 2013, tidak diberikan kunci loker, yang artinya kamu bisa tetep simpan barang di loker, tetapi tidak ada kunci pengaman, atau kamu harus bawa gembok sendiri. Saya akhirnya memilih option yang pertama, simpan barang di loker dengan berharap semoga tidak ada tangan iseng yang ingin memindahkan tas, jurnal-jurnal, dan buku ke tempat lain. Akhirnya saya mencari loker paling sudut bawah.
Saya pun masuk ke perpus, otak dan kaki saya langsung bersinergi ke tempat rak buku biologi. Mencari buku yang akhir-akhir ini menjadi wacana di kelas saya. Biologi Campbell jilid 2. Terserah mau edisi keberapa, yang penting ada "fungi" di dalamnya. Segera saya ambil buku tebal bersampulkan warna hijau itu, takut keduluan orang lain. Setelah dapat, saya nyebrang ke rak buku-buku pendidikan, filsafat dan ilmu. Seperti tujuan utama saya, saya pun mengambil bahan bacaan yang berhubungan dengan pendidikan dan permasalahannya. Tidak tahu jelas kenapa saya tidak bisa berkonsentrasi membaca buku tersebut. Tiba-tiba saja huruf-huruf nya berhamburan dan saya di tuntut untuk menyusun nya kembali, agar saya dapat membacanya kembali. Otak saya pun panas, dan saya pun tertidur. Kira-kira dua puluh menit saya tertidur-dan entah sudah berapa orang yang berganti duduk di depanku- saya terbangun dan mata saya tertuju ke buku yang berjudul " Metodologi Penelitian Sejarah" yang ada di atas meja. Long term memory saya pun langsung bekerja mengingat tugas yang ada hubungan nya dengan buku kecil tapi tebal tersebut. Halaman satu pun berganti dengan halaman selanjutnya. Sampai lah saya di halaman dimana terdapat kata-kata "Nilai Historisitas Manusia", yang artinya manusia selalu ingin berkembang dalam rangka merealisasikan dirinya secara konkret. Berkembang tentu saja dalam hal yang positif. Dimana menurut tafsiran saya, manusia harus melakukan sesuatu untuk membuat ia dapat mengoptimalkan dirinya sebagai manusia sosial yang berdampak bagi dirinya terutama lingkungan dan bahkan bangsanya. Hal ini langsung saya refleksikan ke diri saya. Dan saya sedang ada di titik proses. Proses, yang mungkin saja terdapat kejenuhan di dalamnya, baik cepat maupun lambat. Yah, saya sedang berada pada proses. Dan proses tersebut yang memungkinkan saya akan berjalan menuju kejenuhan, ketika otak dan hati saya sudah tidak bersinergis lagi.
(Tulisan pertama setelah beberapa tahun saya meninggalkan blog saya yang pertama, dan saya meyakini banyak sarang laba-laba di sana)