Saya seolah-olah mati rasa, setelah terjadi perbincangan "hebat" dengan teman tentang pasangan hidup. Tidak tahu kenapa, untuk memikirkan pernikahan, saya rasa masih terlalu dini untuk memikirkannya.
Saya masih 23 tahun. Dan bangga dengan kata "masih" ini. Saya berasa masih muda, apa yang salah dengan itu?
Tiba-tiba apa yang saya rencanakan sebagai plan jangka panjang mungkin harus buyar, dimana pikiran saya terus di kacaukan oleh perasaan saya. Memang egois ketika kita berpikir diri kita ini adalah milik kita sendiri, tanpa harus memandang perasaan orang-orang yang menyayangi kita.
Mengapa seorang wanita pada akhirnya dipilih? Mengapa seorang wanita juga pada akhirnya tidak bersama orang yang ia sukai dan kagumi? Yang hanya mendengar suaranya saja, si wanita sibuk mengatur degup jantungnya, apalagi untuk melihat matanya.
Bukankah seorang wanita yang dewasa tidak masalah jika harus menikah dengan seorang yang di kasihinya, walaupun secara finansial mereka harus memulainya dari nol?
Dan berbicara tentang pria, ternyata ada beberapa tipe pria, diantaranya si petualang dan si pekerja keras. Menarik membahas dua tipe ini, dimana saya juga diperhadapkan pada kedua tipe ini.
Si pekerja keras, saya tidak terlalu suka dia secara fisik maupun karakter, susah jika harus mempertimbangkan karakter, karena bagaimanapun karakter dapat diubah. Dan saya tidak punya perasaan apa-apa terhadap pria satu ini, tapi dari segi finansial, tak usah kuatir memikirkan besok mau makan apa.
Si petualang, saya sedikit tersenyum dan tersipu jika harus membicarakan dia, saya menyukainya dan mengaguminya. Secara fisik dan karakter, dia tipe saya. Senyumnya, matanya, kocaknya, dia benar-benar idaman saya. Tapi satu hal yang saya sesalkan, kenapa saya tidak bertemu dia lebih cepat? Tiga tahun yang lalu mungkin? Maka semuanya bisa saja berubah kan? Atau memang sudah diatur begitu oleh pencipta kami? Dan bicara tentang finansial (saya seperti cewek matre ya? Logis, begitu kata teman) dia mungkin hanya punya harapan yang harus di realisasikannya untuk membuktikan dia "ada".
Saya tidak pernah kuatir dengan masa depan saya, saya yakin sekali dengan rancangan damai sejahtera dari Tuhan, saya percaya itu. Saya hanya perlu keluar dari zona nyaman saya untuk dibentuk oleh Tuhan.
Begitu juga untuk pasangan hidup saya, saya tidak mau mendahului pencipta saya, saya percaya untuk pasangan hidup saya nanti, saya yang tentukan, maksudnya, saya percaya Tuhan sediakan pilihan-pilihan kepada saya, dan saya diberi kebebasan untuk memilih, tetapi kebebasan yang terarah-kebebasan sesuai dengan kehendak Tuhan dengan peka mendengar suara Tuhan.
Tapi pada saat ini, jujur saya juga tidak mengerti dengan perasaan saya, kalau boleh saya minta pada Tuhan, untuk sementara waktu ini, saya tidak ingin memiliki perasaan dimana saya sibuk mengatur degup jantung saya ketika mendengar suaranya, menatap matanya atau berbicara padanya.
Minggu, 01 Desember 2013
Senin, 04 November 2013
Melihat
tiga pemuda yang sedang bermalas-malasan di samping kamar saya, secara
tidak langsung mempengaruhi mood saya. Ntah kenapa saya menjadi sedikit
malas. hahaha
Menguap menular, apakah malas juga menular? saya pikir ya!
Pasti ada pengaruh dari orang yang bermalas-malasan kepada orang lain yang melihatnya.
Dan ada pula pengaruh berteman dengan orang yang suka menulis, contohnya sekarang ini, saya berteman dengan orang yang suka menulis, saya juga keranjingan untuk menulis. Menulis apapun itu, yang penting dari ide sendiri. Saya suka berteman dengan orang yang memiliki pengaruh positif kepada saya, dan saya pikir seharusnya semua orang juga begitu kan?
Pasti ada pengaruh dari orang yang bermalas-malasan kepada orang lain yang melihatnya.
Dan ada pula pengaruh berteman dengan orang yang suka menulis, contohnya sekarang ini, saya berteman dengan orang yang suka menulis, saya juga keranjingan untuk menulis. Menulis apapun itu, yang penting dari ide sendiri. Saya suka berteman dengan orang yang memiliki pengaruh positif kepada saya, dan saya pikir seharusnya semua orang juga begitu kan?
Atau paling tidak mengambil
"positive side" dari orang lain. Hal ini yang kadang kala susah untuk
diterima, ketika kita sudah men"judge" orang tersebut atas
kelakuan-kelakukan negatifnya, sehingga mengaburkan pandangan kita
terhadap "positive side" orang tersebut. Terlebih ketika saya yang
menilai-tidak tahu kalau kamu ya-
Padahal jika dikaji sesuai dengan
hakikat manusia, semua manusia itu sama, lahir dengan sifat "tabula
rasa" menurut John Locke, dan memiliki kemampuan untuk di didik dan
mendidik (Animal Educandum dan Educator). Oleh karena itu salah jika
melihat orang-orang yang putus sekolah oleh karena sikap mereka yang
"begajulan" lalu kita memandang mereka sebagai "sampah masyarakat" (dan
ini juga refleksi buat saya). Yang hanya perlu kita ingat adalah mereka
juga memiliki hakikat manusia sama seperti kita yaitu memilki kemampuan
untuk di didik dan mendidik pada akhirnya.
Paling tidak kita sudah
memiliki suatu pandangan bahwa sebenarnya tidak ada istilah "sampah
masyarakat". Yang ada hanya sampah organik dan non organik. Itu sudah.
Minggu, 27 Oktober 2013
Pangeran
Minggu, 27 Oktober 2013
Tidak tau apa
yang terjadi dengan cinta. Apa cinta itu? Apakah sejenis kata kerja atau kata
benda yang hanya datang kemana ia akan berlabuh?
Aku sendiri tidak
tahu apa itu cinta, yang sering aku baca kata-kata cinta itu sering sekali
menjadi satu kata pokok yang asik sekali jika dibahas. Apakah cinta itu yang
membuat seorang anak SMP menggebu-gebu menyatakan “kan ku jaga cintamu dengan
nyawaku” , atau kah cinta itu yang membuat aku menyukaimu? Aku belum mengenal
kau pangeran, aku hanya mengenal kau dari cerita-cerita mu. Apakah aku sedang
cinta kepadamu? Ataukah aku hanya menyukaimu, menyukai segala aktivitasmu,
menyukai pola pikirmu yang rumit, menyukai kepedulianmu?
Dan aku rasa aku
hanya menyukaimu pangeran. Aku menyukaimu melalui cerita-ceritamu, aku menyukai
aktivitasmu, aku menyukai pola pikirmu yang rumit, dan aku menyukai
kepedulianmu.
Aku tidak ingin dibilang jatuh cinta. Karena bagiku cinta itu suatu yang kompleks, yang tidak cukup di ungkapkan dengan kata-kata, tidak cukup di ungkapkan dengan syair puisi, tidak cukup di ungkapkan dengan lirik lagu, tidak cukup dilukiskan dengan gambar, bahkan tidak cukup di beri dengan suatu benda. Sudahlah biar cinta itu datang dengan sendirinya, karena aku yakin ia tahu kemana ia akan berlabuh.
Wajar jika aku
menyukai lebih dari satu pangeran, karena komposisiku juga terdiri dari
perasaan. Tidak bisakah aku hanya menyukaimu saja untuk sementara ini pangeran?
Banyak yang harus aku lakukan, aku ingin memasukkan diriku ke “manusia-manusia
baru” seperti yang dikatakan Soe Hok Gie, memberantas generasi-generasi tua
yang pikirannya mengacau.
Jangan halangi aku
dengan tingkahmu pangeran, kau boleh memilih siapa saja untuk pendampingmu,
tapi jangan mencoba menghilangkan perasaan menyukaiku terhadapmu. Karena aku
masih akan terus menyukaimu, sampai kutemukan pangeran lain yang daripadanya
cinta itu berlabuh.
Senin, 21 Oktober 2013
Karya sebagai lanjutan dari Karsa
Ki Hajar
Dewantara itu butuh orang yang mau bergerak untuk mengubah pendidikan,
memerdekakan siswa melalui pendidikan, dan orang yang mau menggugat pendidikan
yang salah, bukan orang yang hanya berkumpul, mendiskusikan pendidikan, lalu pulang
dan tidak melakukan apa-apa. Tidak usah kuatir, sudah banyak buku-buku yang
membahas ambul radul dunia pendidikan bangsa ini. Begitu banyak teori yang
tercipta dari hasil pemikiran ahli-ahli. Sebagai perangkat paling penting di
dunia pendidikan, susah kah bagi guru untuk membacanya? Jawabannya tidak. Tidak
susah bagi guru untuk membaca semua teori-teori tersebut. Tetapi guru susah
untuk merubah konsep pemikiran mereka tentang bagaimana cara mendidik siswa dengan
model-model, metode bahkan pendekatan dan strategi yang menarik, kreatif dan
menyenangkan. Guru sudah terlalu nyaman dengan metode mereka, sehingga mereka
harus grasak grusuk dengan kurikulum yang baru, yaitu kurikulum 2013. Dimana
kurikulum ini menuntut guru agar dapat mengarahkan siswa agar mencapai
tingkatan taksonomi bloom yang paling tinggi yaitu aplikasi.
"Ing
ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani " masih
ingat dengan slogan ini? Slogan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Kita
lebih sering menggemakan “tut wuri handayani” mungkin ini juga salah satu
penyebab morat-maritnya sistem pendidikan yang seharusnya paling kita banggakan
di negara kita. “Ing ngarsa sung tuladha (Mampu memberi teladan), ing madya
mangun karsa (mampu memberi motivasi), tut wuri handayani (mampu memberi
dorongan)” pasti ada alasan kenapa KHD menggabungkan ketiga pernyataan ini. Dan
sekarang entah kenapa hanya pernyataan “tut wuri handayani” yang sering digemakan
dan jika kita melihat dari artinya hanya “mampu memberi dorongan” saja. Lalu bagaimana
dengan teladan dan motivasi? Nah bisa jadi praktisi pendidikan lupa bahwa ada
Teladan dan Motivasi. Dan jika digabungkan dan di aplikasikan maka tercapailah
tujuan pendidikan. Kita ambil contoh guru di sekolah, guru memberi teladan,
sudah jelas mengapa “guru” disebut guru karena untuk digugu dan ditiru, dan menurut
filosofi bahasa jawa, digugu mengandung arti orang yang bersifat jujur, nah
jika berbicara tentang kejujuran, sudah pasti kebenaran yang harus di junjung
tinggi, sedangkan ditiru berarti orang yang pantas untuk diteladani. Lalu ada
motivasi, seorang guru harus dapat menanamkan motivasi tinggi terhadap
murid-muridnya sehingga mereka memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa
yang diinginkannya. Lagi pula sekarang sudah banyak model-model, metode
pengajaran yang berpusat kepada student
center , sehingga menuntut siswa aktif di kelas. Jika masing-masing praktisi
pendidikan sadar dan menerapkan slogan ini, maka UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional akan tercapai.
Jumat, 04 Oktober 2013
Nilai Historisitas Manusia
Kemarin pulang kuliah hari kamis, tepatnya satu jam setelah perkuliahan selesai, saya niat banget nih ke perpus. Tujuan nya mulia banget, beneran, pengen baca buku buat nambah pembendaharaan kata-kata di otak, sekaligus pemetaan struktur fungsi otak. Nah lo? apa maksud ini? iya. Jadi ingin menyelaraskan fungsi otak sebagai kecerdasan intelektual dan fungsi otak sebagai kecerdasan emosional.
Anyway, setelah sampai di perpustakaan, seperti biasa saya berdiri di depan stand kunci loker, menunggu kunci loker jatuh ke tangan saya-2 menit berlalu- tapi saya di cuekin sama pegawainya, di situ masih mikir mungkin belum ada loker yang kosong, setelah mungkin pegawai bosan melihat saya -yang terus berdiri di depan stand nya, si pegawai pun menyuruh saya membaca selebaran pengumuman yang ada di depannya. Dan ternyata pengumuman itu sedikit membuat saya syok. Terhitung tanggal 1 oktober 2013, tidak diberikan kunci loker, yang artinya kamu bisa tetep simpan barang di loker, tetapi tidak ada kunci pengaman, atau kamu harus bawa gembok sendiri. Saya akhirnya memilih option yang pertama, simpan barang di loker dengan berharap semoga tidak ada tangan iseng yang ingin memindahkan tas, jurnal-jurnal, dan buku ke tempat lain. Akhirnya saya mencari loker paling sudut bawah.
Saya pun masuk ke perpus, otak dan kaki saya langsung bersinergi ke tempat rak buku biologi. Mencari buku yang akhir-akhir ini menjadi wacana di kelas saya. Biologi Campbell jilid 2. Terserah mau edisi keberapa, yang penting ada "fungi" di dalamnya. Segera saya ambil buku tebal bersampulkan warna hijau itu, takut keduluan orang lain. Setelah dapat, saya nyebrang ke rak buku-buku pendidikan, filsafat dan ilmu. Seperti tujuan utama saya, saya pun mengambil bahan bacaan yang berhubungan dengan pendidikan dan permasalahannya. Tidak tahu jelas kenapa saya tidak bisa berkonsentrasi membaca buku tersebut. Tiba-tiba saja huruf-huruf nya berhamburan dan saya di tuntut untuk menyusun nya kembali, agar saya dapat membacanya kembali. Otak saya pun panas, dan saya pun tertidur. Kira-kira dua puluh menit saya tertidur-dan entah sudah berapa orang yang berganti duduk di depanku- saya terbangun dan mata saya tertuju ke buku yang berjudul " Metodologi Penelitian Sejarah" yang ada di atas meja. Long term memory saya pun langsung bekerja mengingat tugas yang ada hubungan nya dengan buku kecil tapi tebal tersebut. Halaman satu pun berganti dengan halaman selanjutnya. Sampai lah saya di halaman dimana terdapat kata-kata "Nilai Historisitas Manusia", yang artinya manusia selalu ingin berkembang dalam rangka merealisasikan dirinya secara konkret. Berkembang tentu saja dalam hal yang positif. Dimana menurut tafsiran saya, manusia harus melakukan sesuatu untuk membuat ia dapat mengoptimalkan dirinya sebagai manusia sosial yang berdampak bagi dirinya terutama lingkungan dan bahkan bangsanya. Hal ini langsung saya refleksikan ke diri saya. Dan saya sedang ada di titik proses. Proses, yang mungkin saja terdapat kejenuhan di dalamnya, baik cepat maupun lambat. Yah, saya sedang berada pada proses. Dan proses tersebut yang memungkinkan saya akan berjalan menuju kejenuhan, ketika otak dan hati saya sudah tidak bersinergis lagi.
(Tulisan pertama setelah beberapa tahun saya meninggalkan blog saya yang pertama, dan saya meyakini banyak sarang laba-laba di sana)
Anyway, setelah sampai di perpustakaan, seperti biasa saya berdiri di depan stand kunci loker, menunggu kunci loker jatuh ke tangan saya-2 menit berlalu- tapi saya di cuekin sama pegawainya, di situ masih mikir mungkin belum ada loker yang kosong, setelah mungkin pegawai bosan melihat saya -yang terus berdiri di depan stand nya, si pegawai pun menyuruh saya membaca selebaran pengumuman yang ada di depannya. Dan ternyata pengumuman itu sedikit membuat saya syok. Terhitung tanggal 1 oktober 2013, tidak diberikan kunci loker, yang artinya kamu bisa tetep simpan barang di loker, tetapi tidak ada kunci pengaman, atau kamu harus bawa gembok sendiri. Saya akhirnya memilih option yang pertama, simpan barang di loker dengan berharap semoga tidak ada tangan iseng yang ingin memindahkan tas, jurnal-jurnal, dan buku ke tempat lain. Akhirnya saya mencari loker paling sudut bawah.
Saya pun masuk ke perpus, otak dan kaki saya langsung bersinergi ke tempat rak buku biologi. Mencari buku yang akhir-akhir ini menjadi wacana di kelas saya. Biologi Campbell jilid 2. Terserah mau edisi keberapa, yang penting ada "fungi" di dalamnya. Segera saya ambil buku tebal bersampulkan warna hijau itu, takut keduluan orang lain. Setelah dapat, saya nyebrang ke rak buku-buku pendidikan, filsafat dan ilmu. Seperti tujuan utama saya, saya pun mengambil bahan bacaan yang berhubungan dengan pendidikan dan permasalahannya. Tidak tahu jelas kenapa saya tidak bisa berkonsentrasi membaca buku tersebut. Tiba-tiba saja huruf-huruf nya berhamburan dan saya di tuntut untuk menyusun nya kembali, agar saya dapat membacanya kembali. Otak saya pun panas, dan saya pun tertidur. Kira-kira dua puluh menit saya tertidur-dan entah sudah berapa orang yang berganti duduk di depanku- saya terbangun dan mata saya tertuju ke buku yang berjudul " Metodologi Penelitian Sejarah" yang ada di atas meja. Long term memory saya pun langsung bekerja mengingat tugas yang ada hubungan nya dengan buku kecil tapi tebal tersebut. Halaman satu pun berganti dengan halaman selanjutnya. Sampai lah saya di halaman dimana terdapat kata-kata "Nilai Historisitas Manusia", yang artinya manusia selalu ingin berkembang dalam rangka merealisasikan dirinya secara konkret. Berkembang tentu saja dalam hal yang positif. Dimana menurut tafsiran saya, manusia harus melakukan sesuatu untuk membuat ia dapat mengoptimalkan dirinya sebagai manusia sosial yang berdampak bagi dirinya terutama lingkungan dan bahkan bangsanya. Hal ini langsung saya refleksikan ke diri saya. Dan saya sedang ada di titik proses. Proses, yang mungkin saja terdapat kejenuhan di dalamnya, baik cepat maupun lambat. Yah, saya sedang berada pada proses. Dan proses tersebut yang memungkinkan saya akan berjalan menuju kejenuhan, ketika otak dan hati saya sudah tidak bersinergis lagi.
(Tulisan pertama setelah beberapa tahun saya meninggalkan blog saya yang pertama, dan saya meyakini banyak sarang laba-laba di sana)
Langganan:
Postingan (Atom)